The Charm of Batam

SUDAH lama nggak menulis sesuatu di blog. Kali ini saya tertarik menulis hal yang saya temukan di Pulau Batam. Apa pun yang saya tulis tentang Batam, jangan pernah membully apa lagi menghujat saya. Itu pelanggaran. So, just enjoy it. Don't blaspheme. Hehehe

Mengutip dari wikipedia, Kota Batam adalah sebuah kota terbesar di Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia. Wilayah Kota Batam terdiri dari Pulau Batam, Pulau Rempang dan Pulau Galang dan pulau-pulau kecil lainnya di kawasan Selat Singapura dan Selat Malaka.

Pulau Batam, Rempang, dan Galang terkoneksi oleh Jembatan Barelang. Menurut Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Batam per 2015, jumlah penduduk Batam mencapai 1.037.187 jiwa.

Kota ini memiliki, semboyan 'Terwujudnya Kota Batam Sebagai Bandar Dunia Madani yang Modern dan Menjadi Andalan Pusat Pertumbuhan Perekonomian Nasional' jika dienglishkan, kira-kira begini : 'Batam as a civil modern city and as the centre of national economy development'.

Okay, kebetulan weekend lalu, 24 November hingga 26 November saya berkesempatan berkunjung ke Batam. Ala-ala backpaker gitu, walau pergi bersama rombongan seprofesi. Kebetulan berkesempatan menginap di kawasan Nagoya, tepatnya di Nagoya Mansion Hotel. Kawasan itu katanya kawasan favorit wisatawan. Namun semua terlihat biasa.Tapi, mengapa banyak orang-orang Singapura dan wisatawan domestik seperti Riau datang berkunjung? Karena dekat? Malaysia juga dekat.


Saat jalan malam, di kawasan itu saya ditawari sopir taksi untuk berkeliling mencari wanita. Gak perlu saya perjelas, seperti apa wanita yang dimaksud. Sebelumnya, saya juga sempat ngobrol dengan sopir yang menemani selama di Batam. Saya baru tahu, Batam itu sangat bebas. Termasuk bebas pajak alias banyak tempat-tempat ilegal yang berpotensi merugikan Pendapatan Asli Daerah alias PAD. Hampir semua kata abang sopir. Saya bertanya dalam hati, apakah ini yang membuat Batam khususnya kawasan Nagoya menjadi favorit. But I don't care about that. The important thing I can take a vacation.

Saya akui, tata Kota Batam, Provinsi Kepri memang unggul dari Kota Pekanbaru, Provinsi Riau tempat asal saya. Soal tempat wisata, saya pribadi melihat itu biasa saja. Seperti tempat favorit berfoto warganet misalnya, itu loh tulisan besar 'Welcome to Batam' yang terpajang di bukit Clara Batam Centre.

Tempatnya biasa saja, tidak ada arena permainan. Hanya bisa foto dengan latar tulisan besar 'Welcome to Batam' saja. Tapi itu tampak sangat wah! saat saya hanya melihat di foto para warganet  yang bertebar di medsos. Jika dipikir, tempat seperti itu juga bisa dibuat di Pekanbaru. Soal lokasi, banyak. Di kawasan Rumbai misalnya.

Kemudian, jembatan Barelang. Sebenarnya itu hanya jembatan tempat lalu lintas kendaraan. Destinasi wisata serupa juga bisa dibuat di Pekanbaru, ada jembatan Siak III. Atau jembatan yang megah, seperti di Siak Sri Indrapura. Ada jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah. Saya pikir tidak jauh kalah.

Sementara cukup itu saja. Sepulang liburan dari Batam, dengan keadaan sedikit demam saya masih sempat memikirkan apa hal yang membuat wisatawan baik dari Singapura dan wisatawan lokal datang ke sana. Sambil membuka foto liburan, saya melihat ternyata destinasi wisata yang disajikan itu bersih dari sampah. Kemudian, hal yang biasa, bisa menjadi luar biasa lantaran tempat itu dikelola baik oleh pemerintah setempat. Salam backpaker.**


Add Your Comments

Disqus Comments