Mereka Menyebut Saya Gila


ilustrasi (republika.co.id)
SEORANG siswa berseragam lengkap berdiri di ruang tunggu kantor Wali Kota Pekanbaru Dr Firdaus ST MT. Namanya AA (inisial), ia masih berumur 16 tahun. Ia hendak menemui orang nomor satu di ibu kota Provinsi Riau, Kota Pekanbaru itu.

Cukup lama ia berdiri di depan pintu kaca, ruangan wali kota. Di balik pintu kaca, beberapa staf wali kota tampak sibuk dengan pekerjaannya. Beberapa tamu wali kota juga tampak mengantre untuk menemui wali kota dua periode itu. Tujuannya, ingin mengadukan nasib yang ia alami di sekolah. AA mengaku kerap dibully teman-teman sekelasnya.

AA merupakan siswa kelas XII di SMA Negeri 5 Kota Pekanbaru Jalan Bawal Kota Pekanbaru. Ia mengaku berjalan kaki dari sekolah untuk menemui wali kota. Jarak dari sekolahnya ke kantor wali kota, cukup jauh. Berkisar 3 kilometer. Jarak yang ditempuh dengan berjalan kaki, membuat AA tampak lelah.

"Mereka menyebut saya gila," kata AA, saat para awak media menanyakan tujuannya menemui wali kota.

Bullying atau perundungan yang ia dapat dari teman sebayanya tidak hanya sekali. Perlakuan yang tidak menyenangkan itu dialami AA sejak hampir tiga tahun belakangan. Tepatnya sejak ia duduk di kelas X.

Ia mengaku sangat terganggu atas perlakuan teman-temannya di sekolah. Nilainya di sekolah pun diakuinya menurun akibat pikiran dan mentalnya terganggu.

"Sudah empat hari saya tidak masuk sekolah. Saya minder," ujarnya sedih.

Upayanya menghentikan perbuatan temannya itu bukan tidak dilakukannya. AA mengaku sudah mengadukan perbuatan temannya kepada guru di sekolah. Ia menyebut, guru hanya menyuruhnya untuk sabar dan tidak terlalu memikirkan ejekan teman-temannya.

"Saya disuruh sabar dan jangan mengambil hati perkataan teman -teman," sebutnya.


AA sendiri mengaku, ejekan yang ia dapat dari teman-temannya lantaran ia dianggap suka menyendiri dan kurang bergaul. AA memang terlihat pendiam. "Mereka bilang saya kurang bergaul. makanya dikucilkan," sebutnya.

Cukup lama AA menunggu wali kota. Sayang, ia tidak bisa bertemu lantaran kesibukan wali kota. Tapi, tidak lama berselang AA dibawa dua orang pegawai berpakaian dinas. Satu orang mengaku sebagai Kepala Seksi SMA Dinas Pendidikan Provinsi Riau, Dedi Irawan.

Memang, saat ini provinsi Riau memang bertanggung jawab atas sekolah tingkat SMA. Dedi sendiri mengaku mendapat laporan dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru Abdul Jamal, bahwa AA ingin mengadukan nasibnya ke wali kota.

"Sekarang wewenang SMA kan sudah di provinsi. Makanya kami yang menangangi dan memberikan solusi," kata Dedi.

Saat itu, Dedi mengaku akan mencari tahu kebenaran atas kasus yang dialami AA. Sehingga, pihaknya bisa memberikan solusi yang tepat.

Kasus bullying di lingkungan sekolah sebenarnya tidak kali ini saja terjadi Indonesia. Banyak juga kasus bully yang berakhir tragis hingga korbannya kehilangan nyawa.

Sebenarnya, kasus ini tidak perlu terjadi. Terutama di lingkungan sekolah. Banyak instansi yang berperan menangani hal ini, termasuk LPSK. Hanya saja, lingkup kecil di sekolah seharusnya bisa diselesaikan oleh yang berwenang di sekolah tersebut. Terlebih banyak cara yang harusnya dilakukan pihak sekolah untuk menghentikan tindakan bullying di sekolah.

Tindakan seperti itu bisa dilakukan dengan membuat papan pengumuman yang dipasang di sekolah. Papan tersebut memuat informasi mengenai larangan tindakan kekerasan dan informasi mengenai pelaporan dan permintaan bantuan. Kemudian, jika perlu tindakan bullying tersebut dilaporkan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. (sumber: informasiguru.com).

Untuk pemberian sanksi, misalnya, diterapkan sanksi yang proporsional dan memberi efek jera bagi pelaku tindakan kekerasan tersebut. Misalnya, pemberhentian pemberian bantuan terhadap sekolah yang bersangkutan.**




Add Your Comments

Disqus Comments