Hamparan 'Surga' di Kuantan Singingi

MATAHARI masih berada di ketinggian 45 derajat di ufuk Timur, dan jarum jam baru menunjukkan pukul 09.00 WIB, saat kami bertolak dari Ibukota Provinsi Riau, Pekanbaru, menuju Kuansing menggunakan bus roda enam. Parade bocah Taman Kanak-kanak seakan melepas keberangkatan kami.

Hal yang tak pernah terlewatkan setiap perjalanan adalah cemilan yang selalu setia menemani plus Marimas jeruk peras yang sudah disiapkan sejak awal keberangkatan. Karena memang, Marimas bikin adem, Tidak bikin batuk dan cocok dibawa kemana saja, terlebih cuaca hari itu cukup terik.

Alunan lagu musisi legendaris Iwan Fals yang diselingi dangdut koplo menemani sejak awal perjalanan darat sepanjang 163 kilometer. Melalui Jalan Lintas Selatan Sumatera selama dua jam dari Pekanbaru, kami tiba di Desa Rakit Gadang, Kecamatan Lipat Kain, Kabupaten Kampar.

Di ujung Rakit Gadang, sepasang jembatan yang membentang di atas Sungai Subayang tampak berdiri kokoh. Dari jembatan, perbatasan Kampar dan Kuansing sudah dekat. Jarak antara Lipat Kain ke Ibukota Kuansing, Teluk Kuantan, berkisar 88 Km.

Jalanan mulus beraspal mempermudah akses meski dengan bus ukuran jumbo sepanjang sembilan meter. Perjalanan sejak dari jembatan, mata dimanjakan hamparan perbukitan, yang sebagian dibuka untuk perkebunan kelapa sawit. Kalau saja kami beruntung, sepanjang jalan masih bisa menyaksikan kawanan Kera ekor panjang penghuni hutan Kuansing.

Rantau Kuantan, sebutan lain Kabupaten Kuansing berada di sebelah Selatan wilayah Riau. Sebutan Rantau Kuantan melekat karena kabupaten ini konon merupakan daerah perantauan warga Minangkabau, Sumatera Barat.

Kabupaten yang juga disebut Rantau nan Tigo Jurai ini lahir pada 12 Oktober 1999. Kuansing pada awalnya merupakan bagian dari Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu). Kuansing disahkan menjadi daerah otonomi melalui Undang-Undang Nomor 53 Tahun 1999 dengan luas wilayah skitar 7.656,03 Km persegi.

Setelah perjalanan kurang lebih empat jam dari Pekanbaru, langit cerah menyambut kedatangan kami di Teluk Kuantan. Usai istirahat sejenak dan menikmati Marimas Minuman Serbuk Rasa Buah di Wisma Jalur, Jalan Tugu Timur, kami langsung bertolak menuju lokasi wisata Air Terjun Guruh Gemurai di Desa Kasang, Kecamatan Kuantan Mudik.

Guruh Gemurai yang berada dalam kawasan Hutan Lindung Bukit Batabuh adalah satu dari 17 air terjun yang dimiliki Kuansing. Jaraknya dari Teluk Kuantan sekitar 36 Km ke arah Barat Daya. Perjalanan yang kami tempuh sekitar 40 menit menggunakan bus dengan akses jalan yang dilalui tidaklah sulit.

Dalam perjalanan, kami melewati Pasar Tradisional Lubuk Jambi. Tak jauh dari pasar, ada jalan bercabang dua, dan kami berbelok ke sebelah kiri. Sekitar 15 menit kemudian, rombongan disambut gerbang 'Selamat Datang di Obyek Wisata Air Terjun Guruh Gemurai', tepat di sebelah kanan jalan. Tak sulit menemukan petunjuk jalan menuju lokasi wisata ini.

Begitu memasuki kawasan Guruh Gemurai, udara sejuk Bukit Batabuh memberikan sambutan lembut. Dentuman air yang jatuh dari tebing bebatuan sudah terdengar jelas dari area parkir kendaraan. Itu karena titik singgah obyek wisata ini sejajar dengan puncak air terjun.

Suasana cukup ramai saat kami menginjakkan kaki di kawasan Guruh Gemurai. Beberapa pengunjung tampak bersantai di pendopo dekat pintu masuk puncak air terjun. Ada pula pengunjung yang menyusuri jalan setapak menikmati sejuknya udara sore itu.

Memasuki pintu puncak Guruh Gemurai, pemandangan alam hijau tampak mengelilingi empat tingkat air terjun dengan ketinggian berbeda-beda. Sungguh menyejukkan hati. Dari puncak air terjun, aliran air disertai irama percikan pun begitu menakjubkan. Mata dimanjakan suasana alam semesta yang sulit dijumpai di perkotaan.

Air terjun ini diberi nama Guruh Gemurai, karena suara air terjun yang terdengar bergemuruh dan disusul gemurai yang artinya suara gemercik air. Total ketinggian wisata alam air terjun ini mencapai 20 meter. Dengan ketinggian itu, tak heran suara bergemuruh air yang jatuh, dan gemurai air menambah keeksotisan Guruh Gemurai.

Air yang jernih menjadikan Guruh Gemurai semakin istimewa dan digemari pengunjung. Menuruni ratusan anak tangga di sisi kanan puncak Guruh Gemurai, mata tak hanya disuguhi keindahan air yang jatuh. Surga dunia ini juga menyuguhkan kolam alami untuk bermain air, bahkan berenang, tepat di bawah air terjun tingkat pertama.

Pepohonan tampak kokoh tumbuh di sela-sela bebatuan. Beruntung, sore itu kami juga bisa melihat kawanan Kera ekor panjang bermain-main di kawasan hutan lindung yang masih terjaga ini. Air Terjun Guruh Gemurai sendiri dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Kuansing sejak 2005 silam.

Di pemberhentian, saat menuruni tangga menuju kolam di bawah air terjun, kami sempat berbincang dengan Kepala Bidang Pariwisata Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kuansing, Munafri Agus. Tentu saja sambil menikmati segelas Marimas yang disediakan pedagang di lokasi objek wisata, karena Marimas Tidak Bikin Batuk. Dari situ, kami tahu Kuansing menyimpan sejuta pesona.

"Di Kecamatan Kuantan Mudik ini ada banyak air terjun, salah satunya Guruh Gemurai. Masih di Desa Kasang ini, ada Air Terjun Mamughai Air Hitam dan Air Terjun Sonsang. Kemudian di Desa Cengar ada Air Terjun Patisoni dan Air Terjun Batu Gajah. Selain itu ada juga Panorama Kebun Nopi," tutur Munafri sambil tersenyum.

Dahulu, sebelum diambil alih Pemkab Kuansing, Guruh Gemurai memang sudah banyak dikunjungi wisatawan lokal. Hanya saja, fasilitas umum bagi pengunjung yang tersedia saat ini jauh berbeda dari sebelumnya. Pemerintah memoles Guruh Gemurai sejak 2006.

"Awalnya pengelolaan dipegang masyarakat setempat. Jadi, tahun 2005 kita ambil alih, tahun 2006 kita mulai membangun fasilitas pendukung. Seperti bisa kita lihat, ada area parkir yang cukup luas, tempat ibadah dan pendopo untuk bersantai. Kita juga bangun beberapa tempat duduk untuk bersantai di sepanjang jalan setapak di kawasan ini," Munafri menerangkan sembari menunjuk salah satu bangku di atas tebing.

Tak jauh dari tempat kami berbincang, juga dibangun sebuah kamar ganti bagi pelancong yang ingin menikmati segarnya air Guruh Gemurai. Selain itu juga terdapat bantaran seperti dermaga untuk masuk ke kolam alami di bawah air terjun tingkat pertama. Pemerintah juga menyediakan akses jalan semenisasi jika pengunjung hendak melihat keindahan Guruh Gemurai lebih jauh ke bawah tebing. Di sana, juga terdapat jembatan kecil sebagai pijakan agar pengunjung bisa menikmati merdunya gemuruh air.

Pemerintah pun sudah memberikan fasilitas untuk pementasan, apabila ada even atau acara di lokasi Air Terjun Guruh Gemurai. Pentas terbuka berada di seberang area parkir.

Pengunjung pun tak perlu khawatir jika perut keroncongan di tengah sejuknya alam atau setelah berenang. Masyarakat setempat menawarkan berbagai macam kuliner dengan harga terjangkau. Termasuk minuman penyegar rasa buah, seperti Marimas. Karena Marimas Aman Diminum Setiap Hari.

"Ke depan, kita akan membangun lagi fasilitas, seperti gedung pengelola. Di situ nanti akan kita bikin kantin yang menyediakan berbagai makanan tradisional khas Kuansing seperti Galamai, Lemang, Konji Barayak, Wajik Dopuar dan lainnya," tutur Munafri.

Tanpa terasa, hari itu mulai gelap. Pertanda kami harus menyudahi menikmati eksotisme Guruh Gemurai. Usai foto bersama, kami harus kembali ke Teluk Kuantan untuk beristirahat, dan mempersiapkan diri untuk trip Safari Jurnalistik keesokan harinya ke Rumah Godang Kenegerian Sentajo.**




Add Your Comments

Disqus Comments