Loading...

Cerita Pilu di Balik Keindahan Raja Ampat Ulu Kasok

SEPERTI apa yang sampaikan pada postingan sebelumnya. Riau cukup berpotensi untuk mengembangkan sektor pariwisata dan tentunya akan menghasilkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). BACA: Wisata Alam Pekanbaru dan Pujian si Cantik Marischka.

Baru-baru ini muncul destinasi wisata baru di Provinsi Riau, tepatnya di Kabupaten Kampar. Namanya objek wisata Ulu Kasok. Tempat ini cepat menyebar melalui media sosial lantaran view yang disajikan objek wisata ini mirip dengan Raja Ampat di Papua sana.

Jaraknya sekitar 2,5 jam berkendara dari Kota Pekanbaru ibu kota Provinsi Riau. Dari Kota Pekanbaru kita melalui jalan lintas barat menuju Sumatera Barat. Lokasinya tidak jauh dari Jembatan Rantau Berangin atau seputaran Danau Buatan Koto Panjang.

Ada tiga objek wisata yang bisa dinikmati di tempat ini. Pertama air terjun Ulu Kasok, kedua wisata pulau, dan ketiga puncak Ulu Kasok. Puncak Ulu Kasok menjadi primadona. Dari gerbang masuk, jaraknya sekitar 500 meter atau 15 menit berjalan kaki. Untuk tiket masuk, cukup membayar Rp5 ribu per orang.


Tapi, jika kita telusuri ke belakang. Objek wisata yang diviralkan warganet ini punya cerita pilu. Keindahan hamparan pulau-pulau kecil itu terbentuk oleh genangan air bendungan PLTA Koto Panjang.

Menurut sejarahnya, proses pembangunan PLTA Koto Panjang itu diawali dengan project finding oleh perusahaan konsultan dari Jepang TEPSCO (Tokio Electric Power Service Co. Ltd) bulan September dan November tahun 1989 lalu.

Untuk pembangunan fisik proyek, mulai dilakukan tahun 1991 dan diresmikan pada tanggal 28 Februari 1997. Dam PLTA Koto Panjang yang memotong aliran Sungai Kampar Kanan dan menggenangi areal seluas 124 km2, dibangun untuk menghasilkan listrik dengan kapasitas sebesar 114 MW melalui 3 unit turbin.

Proyek ini dibiayai dengan dana dalam bentuk hutang sebesar 31,177 Miliar Yen dari OECF (Overseas Economic Development Fund) Jepang.
Untuk Kepentingan pembangunan PLTA Koto Panjang ini, 10 desa harus ditenggelamkan dan 4.886 kepala keluarga terusir dari desa mereka untuk pindah ke tempat pemukiman baru.

Nah, genangan air bendungan yang membentuk pulau itulah yang saat ini menjadi destinasi wisata baru bagi masyarakat Riau.**






Add Your Comments

Disqus Comments