Loading...

Sepenggal Cerita Pengantar Wisuda

Begitulah, pahit memang sebuah perjuangan itu. Kadang kita lupa, sehingga tidak menyadari perjuangan itulah sebenarnya awal dari kebahagiaan kita. Apa pun itu, entah itu perjuangan dalam berkarir, mau pun perjuangan dalam pendidikan yang saya rasakan hingga pada akhirnya diwisuda pada 26 Januari 2013 dan mendapatkan embel-embel “S.Pd” yang menancap di belakang nama Delvi Adri. Saya sadari, perjuangan itu datang bukan hanya dari saya pribadi, orang tua pun ikut serta berjuang. Dengan keringat dan doa mereka. Itulah bentuk perjuangan mereka untuk pendidikan kita. Tidak hanya itu saja, saudara-saudara, kerabat, teman, dan para sahabat pun ikut berjuang lewat doa-doa mereka.

Saya teringat kata-kata abah (Alm) kepada saudara sepupunya, yang juga mempunyai anak, yang mengecap pendidikan di tempat saya mendapatkan embel-embel (S.Pd). Kira-kira begini kata-katanya “caklah kito iduik susah, nan pontiang anak kito sampai sikolahnyo”. Maknanya begini “Biarlah kita hidup susah, yang penting anak kita selesai sekolahnya (sarjana)”.  Barangkali itu sebabnya, abah (Alm) menyanggupi permintaan kami anak-anaknya untuk melanjutkan pendidikan di bangku kuliah hingga selesai meski pun perekonomian keluarga serba pas-pasan dan walau pun harus ada yang mengalah untuk menganggur pendidikan di antara kami agar bisa menamatkan kakak pertama saya yang kala itu sedang skripsi.

Dalam kesempatan ini, saya hanya bisa berterimakasih banyak, terutama kepada Allah Swt, kedua orang tua saya M. Yamar (Alm) dan Andat, serta tiga saudara kandung saya. Tidak lupa pula kepada wanita spesial *(ayu) yang selalu menemani, sahabat-sahabat yang tak bisa disebut keseluruhan, juga My Bratvas Jhody M. Adrowi, Makmur HM, dan Muhammad Asqalani Eneste, dan juga tim redaksi Majalah Frasa; Yohana Fitri, Nia Nurul Syahara, dan Putu Gede Pradipta. Terimakasih banyak untuk semangat yang diberikan kepada saya.**

*Ayu (Sudah Menjadi Istri dan Ibu dari si kecil Azka)


Add Your Comments

Disqus Comments